Archive | PIMPINAN DAN BOS RSS for this section

ADA APA DENGAN BOS WANITA ?

Di dunia kerja bukanlah hal baru lagi melihat wanita tampil ke depan menjadi seorang pemimpin. Namun, beredar mitos bos wanita biasanya lebih sulit dihadapi ketimbang bos pria. Benarkah?

Sifat alami wanita yang sensitif dan cenderung menggunakan emosi sering dianggap sebagai kekurangan jika ia tampil sebagai pemimpin. Hal tersebut dirasakan oleh Erna (30) seorang staf marketing di perusahaan periklanan. “Bos saya yang sekarang wanita dan dia lebih sering pakai kata hati, lebih emosional, jadi gampang marah,” ujarnya.

Wanita pada kodratnya selain mempunyai sifat emosional yang dimiliki, hal lain yang sering dikeluhkan para bawahan tentang atasan wanita adalah suasana hati yang sulit ditebak dan emosi yang tidak stabil, terutama menjelang menstruasi.

Namun, di balik segala “kelemahan” tersebut, sebenarnya banyak keunggulan yang dimiliki bos wanita, misalnya lebih teliti, memiliki gaya kepemimpinan bersifat kekeluargaan, serta mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus (multitasking).

Style wanita dalam memimpin sangat khas, biasanya lebih egaliter dan menerapkan family style di departemen yang dipimpinnya,” kata Hendra Setiawan, Direktur PT Softex Indonesia, yang sejak awal kariernya mengaku selalu memiliki atasan wanita.

Nah, jika kebetulan bos Anda seorang wanita, ini dia tips yang perlu diperhatikan agar hubungan kerjasama berjalan lancar:

1. Bos wanita biasanya lebih mudah berempati. Gunakan cara pendekatan personal dalam menyelesaikan masalah. Carilah waktu yang santai untuk berdiskusi mencari solusi sebuah masalah.

2. Mood swing sebenarnya tak hanya dialami wanita, tapi juga pria, apalagi jika tekanan kerja sedang tinggi. Jika ia terlihat sedang uring-uringan, tunda dulu membicarakan masalah sampai mood-nya cerah.

3. Berpikiran positif. Dengan selalu berpikir positif, Anda akan lebih santai menghadapi sifat-sifat si bos, bahkan yang paling “ajaib” sekalipun.

4. Biasanya wanita lebih teliti melihat ketidaksempurnaan. Karenanya, pastikan Anda selalu menyelesaikan tugas sesuai tenggat dan menyiapkan dokumen yang diperlukan agar siap menghadapi pertanyaannya. Jalin kerjasama yang kompak dengan sesama tim untuk mencapai target.

PERBEDAAN STRES ANTARA DIPIMPIN BOS WANITA DAN PRIA

Para kalangan pekerja tentu banyak yang “alergi” dengan bos wanita karena konon lebih emosional, galak, dan sinis, pokoknya bikin stres. Mitos itu mungkin ada benarnya.

Gender atasan, menurut hasil jejak pendapat yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Toronto, AS, memengaruhi tingkat stres karyawan. Survei yang dilakukan sejak 2005 itu bertujuan untuk membandingkan level stres dan masalah kesehatan yang ditimbulkan bila seorang pekerja yang memiliki bos wanita, laki-laki, atau punya dua bos berbeda gender sekaligus.

Terdapat Perbedaan Besar :
– Pekerja wanita yang memiliki satu bos wanita dilaporkan lebih tertekan secara psikologis dengan manifestasi berupa sulit tidur, susah fokus pada pekerjaan, depresi, dan kegelisahan. Selain itu, juga ada gejala fisik, misalnya sakit kepala, gangguan perut, sakit punggung dan leher, juga kelelahan. Tekanan ini lebih terlihat jika dibandingkan dengan karyawan yang memiliki bos laki-laki.

– Pekerja wanita yang memiliki bos pria juga wanita, dilaporkan lebih tertekan jika dibandingkan dengan rekan kerja pria yang hanya memiliki satu atasan laki-laki saja.

– Pekerja pria yang bekerja untuk satu atasan, apa pun jenis kelaminnya, juga memiliki kadar stres yang sama.

– Pekerja pria yang bekerja untuk dua bos berbeda gender hanya memiliki tekanan psikologi dan gangguan fisik lebih sedikit dibandingkan dengan pekerja pria yang punya atasan laki-laki.

Para peneliti menduga, kondisi tersebut di atas mungkin ada kaitannya dengan stereotip yang menyebutkan pria lebih cocok jadi pemimpin. Atasan wanita yang bertindak “seperti laki-laki”, menurut seorang peneliti, Scott Schieman, seringkali dipandang negatif.

Selain jenis kelamin bos, faktor lain yang memengaruhi tingkat stres karyawan adalah lingkungan kantor tempat bekerja. Misalnya saja, pekerja wanita yang punya atasan wanita, biasanya bekerja di sektor “feminin”, antara lain pekerja sosial atau bidang pendidikan, yang cenderung kurang tantangan dan kurang menarik dari segi penghasilan. Kondisi tersebut menurut Schieman, membuat kadar stres pekerjanya lebih tinggi.

MENGAPA BOS WANITA KURANG DISUKA?

Sudah bukan rahasia lagi bila wanita yang jadi atasan biasanya kurang disukai. Wanita cenderung tidak dapat membedakan urusan pekerjaan dan urusan pribadi sehingga sering kali ketika berselisih paham di ruang rapat, perselisihan juga dibawa hingga keluar kantor. Begitu mungkin yang pernah Anda amati.

Sebuah penelitian baru tampaknya mempertegas anggapan ini. Responden dari penelitian, yang terdiri atas para karyawan, memandang wanita bos lebih temperamental dan cenderung terlibat dalam politik kantor. Wanita cenderung moody dan senang membicarakan bawahannya kepada rekan kerja yang lain. Pendeknya, mimpi buruk deh bila punya atasan wanita!

Penelitian yang menjaring 3.000 pria dan wanita ini juga mendapati bahwa tiga perempat pria (75 persen) sepakat bahwa mereka lebih senang bekerja untuk atasan pria. Namun hal ini ternyata tidak cuma dirasakan karyawan pria.

Dua pertiga dari wanita yang disurvei (63 persen) mengatakan, lebih memilih bos pria karena mereka biasa to the point, berbicara langsung pada intinya, sehingga lebih mudah dihadapi. Bos pria juga tidak punya maksud-maksud tersembunyi dari apa yang dikatakannya, tidak mengalami mood swing, atau terlibat dalam politik kantor. Mereka juga lebih logis, demikian menurut 14 persen responden.

Seperempat responden wanita menuduh bos wanita sering menusuk dari belakang, dan membawa masalah pribadi ke kantor. Sepertiga dari mereka yang disurvei juga mengatakan bahwa wanita yang memiliki kekuasaan sering merasa terancam oleh bawahannya.

“Hal ini menunjukkan bahwa meskipun wanita lebih mampu mengembangkan peran manajemen, ada pula yang tidak memiliki kemampuan ‘kunci’ yang diperlukan untuk menjadi atasan yang baik,” Hal itu sesuai dengan survey yang diadakan di sebuah study karir dan dunia kerja.

Tentu, tidak ada yang meragukan kecerdasan wanita untuk menempati posisi senior, namun wanita umumnya sulit didekati dan sangat kompetitif. Hal ini mungkin disebabkan karena wanita sering kali berlidah tajam, dan sering moody akibat tamu bulanannya. Penilaian buruk lain mengenai bos wanita adalah terlalu klik-klikan, terlalu bersaing, dan sering mengkhawatirkan penampilannya.

Meskipun demikian, penelitian ini toh juga menghasilkan responden yang “pro” dengan atasan wanita. Mereka yang memilih atasan wanita mengatakan bahwa wanita justru lebih mudah didekati, ramah, dan lebih mampu memahami ketika ada anak buah yang minta izin untuk merawat anak yang sakit.

Studi ini juga menunjukkan bahwa rata-rata karyawan memiliki dua bos wanita dan tiga bos pria. Sepertiga responden pernah mengundurkan diri dari perusahaan karena tidak menyukai atasannya dan mayoritas dari responden wanita mengaku keluar dari pekerjaan karena tidak cocok dengan bos wanita.

Model dan Kebiasaan Kaum Pria yang cendrung disuka dalam memimpin :
1. To the point
2. Cenderung tidak terlibat dalam politik kantor
3. Mudah menalar
4. Tidak bersikap bitchy terhadap rekan kerja yang lain
5. Tidak sering mengalami mood swing
6. Bisa meninggalkan masalah pribadinya
7. Tidak mengalami gangguan “bulanan”
8. Cenderung bisa berbagi minat yang sama
9.  Tidak merasa terancam ketika yang lain lebih menonjol dalam bekerja
10. Lebih logis